Friday, June 8, 2007

cerpen aq

AKU SAHABAT

YANG

MENCINTAIMU

Namaku Arimbi Cahya Saputri, biasa dipanggil Arimbi. Saat mendengar namaku, banyak orang yang berpikiran kalau aku itu pendiam dan kalem. Padahal tidak, justru sebaliknya. Aku memiliki sahabat cowok, namanya Vega,

Kami menjalin persahabtan sejak sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Teman-teman bilang, kami ini seperti perangko. Dimana ada vega, disitu pasti juga ada aku. Kami memang selalu berdua, kecuali saat mandi dan tidur loh! Saat bersama Vega memang sangat menyenangkan dan bisa membuat hatiku tenang dan tentram.

Ketika aku sedang menghadapai masa-masa sulit, dia selalu berkata, ” Tenang, aku akan selalu di sampingmu.” Dia juga sering memberikan nasehat dan saran-saran yang baik untukku. Pokoknya, Vega itu ”is the best” deh. Di mataku, dia termasuk tipe cowok yang sempurna banget. Hanya saja, sifatnya yang cenderung pendiam seringkali membuatku jengkel. Dia itu anaknya tertutup, kalau ada masalah tidak mau cerita dan agak pemalu, terutama soal cewek.

Demi persahabatan ini, kami pernah mengucapkan janji yang berbunyi : ” Kita tidak boleh saling jatuh cinta karena bisa merusak persahabatan yang indah ini”. Janji ini memang terdengar sedikit munafik. Tapi kalau saling jatuh cinta, kami tidak mungkin bisa seakrab ini. Aku dan Vega benar-benar bahagia dengan persahabatan ini. Kebetulan saat SMP, kami tetap satu sekolah. Jadi, bisa tetap bersama-sama.

Lama kelamaan aku memiliki perasaan lebih terhadap Vega, sepertinya aku jatuh cinta. Semenjak perasaan ini tumbuh, aku selalu dikejar ketakutan. Bagaimana kalau vega sampai tahu? Ya Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta dengan dengan sahabatku sendiri. Mengkin benar kata pepatah, ” Cinta tumbuh karena sering bertemu ”. Apalagi sekarang aku sudah remaja. Hatiku terasa mengganjal karena tidak menceritakan hal ini pada seseorang. Biasanya aku bercerita pada Vega. Tapi untuk yang satu ini, Vega tidak boleh tahu. Akhirnya aku curhat dengan teman sebangkuku, namanya Mia. Meskipun dia belum mengenalku jauh, dia baik sama aku.

” Ga, kamu kok aneh sih? Abis dimarahin guru, ya?” pertanyaanku tidak dihiraukan olehnya. Dia terus mengayun sepeda BMX-nya dan meninggalkan aku. Vega terlalu cepat sehingga aku tidak bisa mengejarnya. Aku baru sadar kalau tadi aku telah bercerita pada Mia. Segera kubelokkan setir dan kembali ke sekolah untuk mencari Mia. Untung, ia belum pulang.

”Mia! Kamu cerita ya sama Vega?” tanyaku

”Iya.” jawabnya enteng

”Kenapa?” aku mulai jengkel dengan Mia

” Kalau Vega tau dia bisa cepat-cepat nembak kamu. Kalian kan deket, siapa tau Vega juga suka ma kamu,” jawab Mia dengan jujur. Aku benar-benar menyesal telah menceritakan semuanya pada Mia. Tapi ini bukan salahnya, dia tidak tahu apa-apa karena dia anak baru. Ini semua adalah salahku. Benar kata Vega dulu, aku ini anaknya sering terjebak situasi. Kalau tidak kepepet, aku tidak akan bercerita dengan Mia. Saat itu, teman-temanku yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Cuma Mia yang sedang duduk santai dan ada disampingku.

”Ya sudahlah,Mia !”

”Maafkan aku, ya Ar...!”pinta Mia dengan muka memelas. Aku hanya bisa mengangguk dan kembali ke rumah dengan perasaan hancur berantakan. ” Vega pasti membenciku.”

Keesokan harinya, aku berusaha menyapa Vega agar dia tidak marah padaku dan menjelaskan apa yang telah terjadi. ” Ga...” belum selesai aku bicara, Vega sudah beranjak pergi. Ternyata benar, Vega membenciku. ” Aku tidak boleh putus asa, aku harus berusaha.” Itu pesan Vega dulu. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku.

Saat istirahat, aku melihat vega duduk sendiri di kantin dengan bakso dan Fanta di mejanya. Itu makanan yang sering kami pesan. Tapi, Vega tidak menghiraukan itu. Ia memandangi dengan tatapan kosong. Aku memberanikan diri untuk menghampirinya.

” Ga, kamu marah ya sama aku?” tanyaku dengan nada terputus-putus. Pandangan Vega langsung beralih ke arahku. Tatapannya yang tajam membuat kakiku gemetaran. ” Marah? Ya jelas aku marah. Kamu kan tahu kalau aku gak suka sama anak yang menjilat ludahnya sendiri. Kamu ingat gak sih sama janji kita dulu?” Sebelumnya aku gak pernah melihat Vega seperti ini. Dia benar-benar marah. Nada bicaranya tinggi sehingga teman-teman yang lain melihat ke arah kami berdua.

” Aku bisa jelasin semuanya.” Air mataku jatuh sehingga aku harus mngusap pipi. ” Nggak perlu!! Persahabatn kita putus, ini semua karena kamu, Ar!” Setelah puas membentak dan memojokkan aku. Vega langsung pergi meninggalkan aku yang masih terisak. Aku benar-benar tampak bodoh di depan teman-teman. Bahkan ada sekelompok anak di belakangku yang menjadikan aku sebagai tema pembicaraan.

”Wah, ternyata Arimbi jahat juga, yah?”

”Iya, masa’ dia yang janji, dia juga yang mengingkari.”

Aku tidak tahan dengan kata-kata itu sehingga harus berlari sekencang-kencangnya menuju toilet sekolah. Tak lama, teman-teman datang menghiburku. Mereka benar-benar teman yang baik, tapi gak sebaik Vega.

Setelah peristiwa itu, Vega tidak pernah masuk sekolah selama kira-kira 2 minggu. Aku ingin mengetahui kabarnya dan datang ke rumahnya. Tapi, aku takut dia mengusirku. Ya sudahlah, aku hanya bisa menunggu. Kegundahanku terjawab saat Kak Veri, kakak kandung Vega datang ke sekolah untuk mengurus kepindahannya.

”Pindah, Vega pindah?!” tanyaku pada Kak Veri

”Iya, mendadak dia pengin pindah dan ikut tante kami. Sekarang dia sudah di Yagya,”jawab kak Veri. Tubuhku lemas seketika saat mendengar kabar itu, sampai-sampai kak Veri berpamitan tidak aku hiraukan.

” Kenapa, Ga? Apa kamu pindah untuk menghindariku?” Hatiku bertanya-tanya. Kebahagiaanku bersama Vega sudah berhenti. Saat-saat indahku dengannya kini harus kusimpan baik-baik di dalam lubuk hatiku. Vega, sahabat kecilku telah pergi.

” Aku minta maaf, Ga. Sekarang aku tidak sebahagia dulu.”

” Aku menyesal telah mengucapkan janji itu, aku memang suka menjilat lidah sendiri. Kamu memang pantas untuk membenciku.”

TAMAT

2 comments:

Dewi S.R. said...

Cerita x imajinasimu atau emang bener-bener terjadi???.tapi cerpenx bagusss koq.

Orang Gunung said...

nice post ... gw suka ceritanya ... :D